Planet Geo Indonesia

Indonesian GIS & Geo-related blogs aggregator
Agregator blog GIS & Geo Indonesia

Planet

Review Akhir Peta Hijau Sahabat Sepeda Yogyakarta 2008

Peta Hijau - 7 hours 5 min ago in Communities

Kinoki - Minggu, 10 Agustus 2008

Peta Hijau Sahabat Sepeda Yogyakarta kita akan segera terbit. Wew.. sudah cukup lama prosesnya berlangsung sejak awal tahun 2007 lalu. Kita telah berhasil mengumpulkan sekian banyak data bersama banyak teman pula. Namun, masih ada satu langkah lagi sebelum peta itu kita cetak dan sebarluaskan, yaitu meninjau kembali kelengkapan dan kesahihan data yang ada tersebut.

Oleh karenanya, untuk “menguji” validitas data yang sudah terkumpul itu, sebuah sesi presentasi dan diskusi untuk meninjau peta hijau tsb pun akan digelar. Kita mengundang teman-teman untuk datang dan ngobrol bareng pada:

Dummy Peta Hijau Sahabat Sepeda Yogyakarta (2008)

Hari, tanggal: Minggu, 10 Agustus 2008
Pukul: 17.00 - 19.00 WIB
Tempat: Bioskopnya Kinoki Jl. Abu Bakar Ali No. 2 Kotabaru, Yogyakarta
Agenda:
- presentasi dummy Peta Hijau Sahabat Sepeda
- tinjau data Peta Hijau Sahabat Sepeda
- diskusi rencana kegiatan ke depan (more…)


Shapefile Manipulation Menggunakan Mapwindow

IniGIS - 13 hours 22 min ago
MapWindow GIS pernah saya singgung sangat sedikit pada postingan tentang list Open Source GIS. MapWindow merupakan perangkat lunak “Programmable Geographic Information System” untuk manipulasi, analisis dan menayangkan data-data geospatial sesuai dengan standar format data GIS. MapWindow sebuah mapping tool, sistem model GIS dan GIS API untuk programming aplikasi. MapWindow didistribusikan berdasarkan lisensi open-source. MapWindow [...]

Generasi mana kamu ?

Rovicky DP - 14 hours 5 min ago
Perubahan dunia kalau dilihat dalam 50 tahun terakhir ini terutama pada tahun 1970-an. Kmarin yang aku tunjukin dengan peningkatan jumlah penemuan minyak di South East Asia di seminar IATMI-KL di KBRI bulan lalu itu ternyata tidak hanya perminyakan. Gambar yang saya tunjukkan seperti dibawah ini : Disebelah ini memperlihatkan penemuan minyak dan gas di Asia tenggara sejak [...]

Ada teman yang lagi gak punya semangat

Ketut Wikantika - 14 hours 25 min ago
AKhir pekan ini tepatnya tanggal 10 Agustus 2008, hari minggu, ada pesta demokrasi di kota Bandung. Iya, pemilihan wali dan wakil wali kota periode 2008-2013. Pasti semua warga Bandung akan semangat dan sumringah untuk melaksanakan pesta lima tahunan itu. Tapi tiba-tiba ada teman dekat saya datang ke ruangan. Mukanya murung dan terkesan memelas (he..he..). “Ada apa [...]

Transfer Data dari Garmin ke MapSource

PGIS - SIGaP - 8 August, 2008 - 09:47 in Communities
Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 st1\:*{behavior:url(#ieooui) } /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}

Setelah kita mendapat data dari lapangan melalui GPS, baik itu Garmin tipe Etrex Vista ataupun Etrex Vista Cx, maka selanjutnya adalah mengunggah data tersebut ke MapSource. Untuk kemudian kita olah.

Bagaimana caranya?

Langkah sederhana berikut bisa kita lakukan.

Anggap komputer kita sudah diinstalasi dengan program MapSource. (Bagaimana menginstalasi Insya Allah nanti akan disampaikan, tapi sabar yah

Untuk pertama kali mengunggah data dari GPS ke MapSource:

1. Aktifkan program MapSource.

2. Siapkan kabel transfer data dari GPS ke komputer.

a. Untuk GPS eTrex vista siapkan kabel transfer yang didapat bersama GPS dan kabel serial ke usb. Jangan lupa install terlebih dahulu kabel transfer tersebut melalui CD yang menyertai kabel serial ke usb.

Yang perlu diingat selanjutnya adalah, jangan lupa tempat dimana usb port yang anda gunakan (ini tentunya kalau komputer anda memiliki lebih dari satu usb port) adalah lubang dimana anda pertama kali menggunakan kabel dan menginstallnya. Karena bila anda kemudian mentransfer data melalui lubang usb yang berbeda maka anda tidak bisa menunduh data GPS. Kesalahan ini dilapangan sering terjadi. Bayangkan, bila ini terjadi pada operator yang mudah panik. Sudah pasti ia akan telpon sana-sini terutama menelpon koordinator KBBM di Jakarta.

Gambar kabel transfer GPS Garmintipe Etrex Vista

Gambar kabel serial ke USB

b. Untuk GPS eTrex Vista Cx siapkan kabel transfer yang didapat bersama GPS. Berbeda dengan tipe eTrex Vista, kabel transfer tipe Cx sudah berbentuk USB, jadi bisa langsung digunakan tanpa kabel tambahan dan tanpa install kabel terlebih dahulu.

3. Sambungkan kabel antara GPS dengan komputer

4. Aktifkan GPS

5. Klik icon yang bergambar GPS dengan arah panah ke atas

6. Tampil kotak dialog, klik waypoints dan track kemudian klik OK.

7. Selanjutnya akan tampil, proses transfer data.

8. Setelah kotak dialog berikut tampil, klik OK

9. Proses transfer data selesai.

10. Sebagai tanda bahwa data telah berhasil ditransfer maka terlihat pada sisi kiri adalah data yang telah berhasil ditransfer.

11. Untuk transfer data berikutnya tidak perlu menginstall kabel data lagi. Kecuali:

a. Titik usb yang anda gunakan adalah titik baru

b. Menggunakan kabel data yang berbeda

Selamat mencoba.

_____________________________________________________________________________________

Akhir dari tulisan ini

_____________________________________________________________________________________


Tips menghadapi generasi tua

Ketut Wikantika - 8 August, 2008 - 08:57
Rekan usviany meminta kiat-kiat untuk menghadapi para senior atau generasi tua. Untuk itu saya menguraikan kiat-kiat dalam bentuk tips simpel. Disini mungkin perlu ditekankan bahwa bisa jadi banyak juga generasi tua atau para senior yang punya pemikiran segar dan patut ditiru. Tapi tetap fokus utama dari tips ini adalah untuk menghadapi para senior yang kaku, [...]

Ajakan Terbuka dari Bilik Siar

Peta Hijau - 7 August, 2008 - 22:25 in Communities

Peta Hijau Jakarta segera Diwujudkan

Topik Wikimu on air bersama DRadio 103,4 FM, hari Senin lalu (4 Agustus 2008) tentang pembuatan Peta Hijau Jakarta menghadirkan Mas Nirwono Joga atau yang dikenal sebagai Mas Yudi sebagai narasumber. Mas Yudi adalah koordinator pembuatan peta hijau ini.

Seperti biasa, siaran ini dipandu oleh Mbak Riri dan Mas Uya dari DRadio. Sebagai penggembira dari Wikimu, ada Mas Errr dan aku sendiri, Bayu Wardhana. Siaran pun dimulai tepat pukul 10.00 sampai 11.00 WIB.

Nirwono Joga (Yudi), Koordinator Peta Hijau Jakarta 2008

Sesi pertama, Mas Yudi menjelaskan apa itu peta hijau atau green map. Peta hijau adalah peta yang dibuat oleh masyarakat sendiri untuk menandai tempat-tempat yang hijau/ramah lingkungan, juga dari sisi sosial budaya.

Tempat yang hijau atau ramah lingkungan, tidak hanya berupa taman, hutan kota, danau, tapi juga lokasi-lokasi yang membantu/mendorong orang untuk hidup lebih ramah lingkungan. Contohnya; outlet yang menjual bahan pangan organik, tempat pembuatan kompos, daur ulang kertas, pengolahan sampah plastik, kerajinan dari barang-barang recycle, tempat pengamatan burung, kebun binatang, gedung mal yang ramah lingkungan, dan sebagainya.

Sementara, yang dimaksud dengan tempat sosial budaya, adalah seperti museum, situs bersejarah, ruang publik (taman, plaza), gedung kesenian, pusat ilmu pengetahuan, dan lain-lain. Mengapa tempat-tempat ini masuk ke dalam peta hijau? Sebabnya, di tempat-tempat inilah kita bisa belajar dan mengenal (sejarah, ilmu, interaksi) masyarakat kita sendiri.

Selanjutnya Mas Yudi menjelaskan rencana pembuatan Peta Hijau Jakarta 2008. Tahun-tahun sebelumnya, diceritakan, komunitas Peta Hijau Jakarta pernah membuat beberapa peta hijau, tapi dalam kawasan tertentu, meliputi Kebayoran Baru, Menteng, Kemang, dan Jakarta Kota (Kota Tua). Peta hijau terakhir dibuat pada tahun 2005 untuk kawasan Jakarta Kota. (more…)


Pemetaan Partisipatif di Daerah Urban (Urban Participatory Mapping)

PGIS - SIGaP - 7 August, 2008 - 14:43 in Communities
Jakarta, sebagai sebuah kota, sedemikian pesat perkembangannya. Penataan lahan yang buruk menyebabkan kota Jakarta terkesan sebagai Desa/Kampung Besar. Banjir, kebakaran, wabah penyakit adalah ancaman yang umum mendera Jakarta. Bayangkan, Jakarta sebagai kota besar No.1 di Indonesia harus menyerah kalah pada banjir. Bila banjir datang, jakarta tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai kota, kemacetan terjadi karena jalan-jalan tergenang air. Sehingga menggangu perekonomian dan pelayanan publik. TANTANGAN DAN TIPS PEMETAAN RISIKO DI DAERAH PERKOTAAN Memetakan risiko didaerah perkotaan memiliki tantangan tersendiri dalam pelaksanaannya, diantaranya adalah:
  1. Sukar memetakan batas area (RT, RW dan terkadang juga Kelurahan), karena misalnya rumah berdempetan namun sudah berbeda RT.
  2. Kerapatan perumahan yang sangat tinggi mengakibatkan GPS kesulitan mendapatkan sinyal. Dari berbagai pengalaman pemetaan di Jakarta, GPS Garmin tipe E-Trex Vista sulit mendapatkan sinyal. Juga GPS Garmin tipe Legend.
  3. Satu rumah namun lebih dari satu KK.
  4. Satu bangunan rumah dan bertingkat, namun dipetak-petakkan yang berisi keluarga (KK) yang berbeda, biasanya karena dikontrakkan atau dibuat kos-kosan (per kamar).
  5. Satu bangunan bertingkat dijadikan tempat usaha dan toko yang beraneka jenis. Lantai satu toko kelontong dan lantai dua dijadikan salon dan warung internet (warnet) dan juga sekaligus sebagai tempat tinggal.
  6. Terdapat rumah susun.
  7. Terdapat lorong-lorong kecil, jalan alternatif (jalan tikus), jalan buntu dan terdapat atap rumah satu dengan yang lainnya menjadi satu hingga tertutup, hal ini mempengaruhi sinyal GPS.
  8. Banyaknya aliran air (got) yang terputus dikarenakan telah tertutup.
  9. Adanya pabrik yang berada didekat atau di pemukiman masyarakat.
  10. Adanya perubahan fungsi fasum digunakan untuk pribadi.
  11. Ada masyarakat yang areanya tidak mau dipetakan karena alasan-alasan tertentu, seperti yang terjadi disalah satu RW di satu Kelurahan di Jakarta Barat. Ancaman bahkan dengan menggunakan senjata, agar daerahnya tidak dipetakan.
  12. Issue penggusuran. Penggunaan GPS (pemetaan risiko) bila tidak disosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat luas akan membuat masyarakat khawatir daerahnya akan digusur.
Sedangkan untuk partisipasi masyarakat tidaklah menjadi masalah. Memang ada mitos yang mengatakan bahwa warga Jakarta akan sulit diajak kerja sukarela atau berpartispasi dalam kegiatan. Kenyataannya kegiatan ini bisa dilaksanakan dengan baik. Kuncinya? Jelaskan program atau kegiatan dengan jujur dan libatkan secara aktif masyarakat. Warga Jakarta, baik penduduk asli (baca Betawi) atau pendatang, pada dasarnya adalah masyarakat sosial yang berasal dari kesukuan yang sama, Melayu. Sehingga dasar-dasar kerjasama (gotong royong) masih tetap ada dalam kehidupan mereka. Tinggal kita gali dengan rutin dan menggunakan pendekatan yang umum dan bisa diterima di masyarakat. Tips berikut akan membantu anda memetakan risiko di perkotaan. Tips ini berdasarkan pengalaman pemetaan di daerah urban di Jakarta, yaitu Kelurahan Kedaung Kali Angke dan Rawa Buaya, Jakarta Barat dan Kelurahan Bidara Cina dan Cawang, Jakarta Timur.
  1. Sosialisasi yang benar terhadap pelaksanaan dan tujuan pemetaan risiko adalah hal yang tidak boleh dikesampingkan atau dijadikan prioritas bawah.
  2. Libatkan partisipasi masyarakat sejak awal sampai akhir (Perencanaan dan Evaluasi).
  3. Menggunakan GPS Garmin tipe eTrex Cx atau HCx akan sedikit membantu, karena tipe ini sangat kuat dalam hal sinyal GPS. Juga perhatikan: (a). Walaupun sudah Ready to Navigate, GPS jangan langsung digunakan. Tunggu dulu beberapa menit untuk memperkuat ikatan sinyal dengan GPS yang digunakan. (b). Kalibrasi kompas GPS yang digunakan. Untuk semua jenis GPS yang digunakan (Garmin tipe eTrex Vista maupun eTrex Cx dan HCx).
  4. Gunakan Google Earth untuk persiapan/perencanaan pemetaan dan checking data yang didapat dari lapangan.
  5. Izin pemetaan dari pihak terkait sangat dibutuhkan, termasuk pendekatan terhadap pemimpin dan non-formal (berdasarkan asal daerah, kesamaan mata pencaharian – pedagang buah segar, ikan asin, dll. Juga terkadang berdasarkan partai politik atau organisasi-organisasi kepemudaan).
  6. Jangan paksakan pemetaan pada daerah dimana masyarakatnya menolak atau keselamatan tim terancam, walaupun itu masuk dalam daerah program. Tim pemetaan di Jakarta Barat mengalami hal ini, dimana ada satu RW yang tidak bersedia dipetakan. Mereka tidak memberika alasan dengan jelas, hanya ada rumor warga disana adalah mereka yang terkait dengan peredaran barang terlarang sehingga mereka khawatir setelah di petakan daerahnya akan di "grebek".
  7. Perhitungkan waktu pemetaan dengan besar area dan jumlah penduduk yang akan dipetakan. Karena bisa jadi waktu pemetaan di daerah urban akan membutuhkan waktu lebih banyak dibandingkan di daerah pedesaan. Biasanya terkait dengan jumlah penduduk dan data untuk peta dasar. (Ujang dan Taufik).
____________________________________________________________________ Akhir dari Posting ini

Video Tutorial ArcGIS : 3D Analyst (Bagian 3)

IniGIS - 7 August, 2008 - 11:25
Pada Video tutorial ArcGIS 3D Analyst yang bisa di download gratis bagian ke-3 ini terdiri atas 21 video yang merupakan kelanjutan  dari bagian pertama dan kedua.  Rincian Video Tutorial ArcGIS - 3D Analyst kali ini adalah sebagai berikut  (klik judul untuk men-download video tersebut) : How to open a scene document and capture perspective views as [...]

Ada apa ini ribut-ribut?

Peta Hijau - 7 August, 2008 - 11:17 in Communities

Meneguhkan Peran Remaja untuk Lingkungan

“Ada apa ini ribut-ribut? Ada apa ini?” tukas Pak RT mendatangi kerumunan warga.
“Ini lho, Pak. Ibu ini membuang sampah di selokan,” gerutu anak-anak pecinta lingkungan.
Mbok ya buang sampah itu di tempat sampah, Bu,” Pak RT mengusulkan.
“Uh, repot. Lagian nda ada duit. Wong selokan ini selokanku juga kok,” seloroh si ibu.

Itu tadi cuplikan role play yang diperankan siswa-siswa SMP sekitar Dusun Banteng, peserta kemah remaja untuk lingkungan hidup DIAN/Interfidei dan Pemuda Dusun Banteng. Pada kemah yang dilaksanakan di Kompleks Puskat, Sinduharjo, Sleman pada 2-3 Agustus 2008 lalu, Komunitas Peta Hijau diminta turut serta menjadi narasumber sekaligus fasilitator.

Sabtu (02/03) malam, diawali dengan pemutaran film bertema lingkungan sebagai sarana pemancing diskusi. Ada beberapa film yang disiapkan. Namun berhubung ada masalah teknis, tidak semua film bisa ditonton. Film pendek Recycling is Fun, How to Save Energy at Home, dan Film Green Map Cuba Drop by Drop pun naik tayang. Sebelumnya, peserta diajak dialog tentang masalah lingkungan di rumah dan sekolah. Di sela itu, ada Komunitas Tikar Pandan yang mendendangkan dua lagu rancak menambah hangat suasana malam.

Keesokan harinya, peserta kemah remaja diajak untuk menjelajah lingkungan sekitar. Lima puluh lima siswa terbagi dalam empat kelompok jelajah, dengan dipandu Pemuda Dusun Banteng dan fasilitator Peta Hijau. Walaupun tanpa peta, masing-masing kelompok mendapat misi memetakan kawasan sekitar Puskat. Bukan hanya itu, selama perjalanan, mereka mesti menemukan masalah lingkungan dan mencari solusi permasalahan tersebut.

Cukup mudah bagi anak-anak usia SMP untuk menemukan masalah lingkungan di tempat yang mereka lalui. Benar saja, saat melihat coret-coret di dinding, Dimas, peserta dari SMP PIRI nyeletuk, “Tembok yang dicoret-coret ini juga masalah.” Masih banyak masalah lainnya, mulai dari banyaknya lahan kosong dengan sampah teronggok, got mampet dan membawa aroma tak sedap, sungai kering yang dipenuhi sampah, hingga ibu-ibu yang membuang sampah ke got. (more…)



All opinions belong to their respective owners, others, copyright © 2006-2007 Buana Katulistiwa.